MEMBACA PEMAHAMAN LITERAL

a. Pengertian Membaca Pemahaman Literal

Terampil dan mampu membaca tidak diperoleh secara alamiah, tetapi diperoleh melalui proses pembelajaran yang bertahap dan sistematis. Haryadi dan Zamzami (1996: 303) menyatakan bahwa membaca adalah suatu aktivitas yang disengaja dan terencana. Dengan melakukan aktivitas proses membaca berarti melakukan aktivitas memproses makna kata, memahami konsep, memahami informasi dan memahami ide yang disampaikan penulis dan dihubungkan dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembaca.

Burn, Roe dan Ross (996: 996: 46) menyatakan bahwa: “Membaca adalah suatu proses kegiatan berbahasa unluk memahami dan menerima isi bacaan yang disampaikan oleh penulis melalui baca tulis dan wujud isi pesan berupa fakta, gagasan, pendapat, dan uugkapaan perasaan.”

Kemampuan memahami isi bacaan diperlukan kompetensi seperti yang dikemukakan oleh Billet dan Temple dalam Burn, Roe dan Ross, (1996: 34), yaitu:

6
“proses pemahaman dalam membaca melibatkan tiga hal pokok, yaitu pengetahuan yang telah dijumpai oleh pembaca (prior knowledge), pengetahuan tentang struktur teks (knowledge of text structure) dan kegiatan menemukan makna (active search for information). Pengetahuan yang sebelumnya telah dipunyai oleh pembaca merupakan pembendaharaan sejumlah pengetahuan tentang apa yang tersimpan dalam schemata dan dalam struktur psikologis pembaca. Penguasaan struktur teks bacaan deskripsi, eksposisi, argumentasi, narasi, dan persuasi ciri khas tersendiri. Kegiatan menemukan makna merupakan hal yang penting, karena dengan menemukan makna, maka dapat memahami isi bacaan yang dibaca.

Menurut Burn, Reo dan Ross, (1996: 43) menyatakan bahwa: “Membaca pemahaman literal adalah membaca teks bacaan dan memahami isi bacaan tentang apa yang disebutkan di dalam teks yang tersurat.”

Kompetensi membaca pemahaman seperti yang diuraikan tersebut di atas adalah suatu hal yang mutlak dimiliki oleh siswa sejak usia SD. Hal ini dapat dicapai setelah mereka mampu membaca permulaan. Membaca permulaan diajarkan pada kelas rendah di SD, yaitu kelas satu dan kelas dua. Sementara membaca pemahaman mulai diajarkan pada tingkat kelas tiga dan dimulai pada latihan pemahaman tingkat rendah (literal) dan secara bertahap dikembangkan sesuai jenjang kelasnya.

b. Model-model Membaca Pemahaman Literal

Punfey dalam Rumijan (2002: 25) menyatakan bahwa: “Mengembangkan pemahaman literal dibagi dua kategori, yaitu kemampuan mengenal dan kemampuan mengungkapkan kembali isi bacaan berupa (1) detail, (2) ide pokok, (3) urutan, (4) perbandingan, (5) hubungan kausal, (6) pelaku dalam bacaan.” Dari uraian isi bacaan literal atau seperti yang tersurat di dalam teks bacaan dan pada hakikatnya adalah kemampuan menginterpretasi makna dalam teks bacaan.

Untuk membangun pemahaman literal, siswa diberikan panduan pertanyaan arahan seperti yang dikemukakan oleh Burn, Roe dan Ross (1996: 47) yaitu:

“(1) Siapa, untuk menyakan orang/binatang atau tokoh di dalam wacana, (2) apa, untuk menanyakan barang, bench, dan peristiwa, (3) di mana, untuk menanyakan tempat. (4) kapan, untuk menanyakan waktu, (5) bagaimana, untuk menanyakan proses jalannya suatu peristiwa alasan untuk sesuatu, dan (6) mengapa, untuk menanyakan sesuatu sebagaimana disebutkan di dalam bacaan”.

Panduan untuk memahami isi bacaan secara literal seperti di atas diharapkan dapat dijadikan petunjuk untuk memahmi isi bacaan. Shanklin dan Rhodes dalam Burn, Roe dan Ross, (1996: 105) menyatakan bahwa: “Kemampuan memahami isi bacaan merupakan suatu proses yang berkembang secara terus-menerus dan dapat dimulai sebelum buku dibaca dan berkembang setelah buku selesai dibaca.”

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Membaca Pemahaman Literal

Guna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, sekurang-kurangnya guru perlu membina lima faktor pendukung pemahaman seperti yang diungkapkan oleh Burn, Reo dan Ross (1996: 112) yaitu; “(a) potensi skemata pembaca, (b) potensi mengingat. (c) perspektif pembaca, (d) kemampuan berpikir, dan (e) aspek efektif.” kelima hal tersebut dibahas sebagai berikut.

(a) Potensi Skemata Pembaca

Setiap manusia memiliki potensi u ntuk berkembang. Potensi itu ada pada diri siswa itu sendiri yang tersimpan di dalam memorinya. Hal ini sebagaimana yang dinyataan oleh Cahyono (1992/1993: 25) bahwa: “Skemata adalah berupa pengetahuan yang tersimpan di dalam memori siswa yang dapat berfungsi pada saat siswa menginterpretasi informasi baru serta membiarkan informasi bari itu masuk dan menjadi bagian dari pengalaman yang tersimpan.”

(b) Potensi Mengingat

Kemampuan mengingat adalah suatu kemampuan kognisi yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam Taksonomi Bloom kemampuan ini termasuk kemampuan tingkat rendah. Mengingat sangat diperlukan dalam membaca, karena dengan mengingat pembaca dapat menggungkapkan kembali dan menghubungkan antara apa yang dibaca dengan apa dipahaminya.

(c) Perspektif Pembaca

Perspektif pembaca merupakan potensi yang sangat menentukan pemahaman seseorang dalam membaca teks bacaan. Dengan perspektif yang dimilki oleh siswa terhadap bacaan yang dibacanya dapat memberikan kemudahan dalam memahami isi bacaan. Perspektif yang dimaksud adalah pendapat, anggapan, dan tinjauan pembaca terhadap teks yang dibacanya.

(d) Kemampuan Berpikir

Kemampuan berpikir adalah syarat untuk memahami sesuatu. Untuk memahami isi bacaan diperlukan kognisi siswa. Kemampuan berpikir yang dimaksud adalah kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis tentang apa yang dibacanya.

(e) Aspek Apektif

Aspek atfektif adalah aspek yang juga menentukan kemampuan sesorang memahami isi bacaan dengan baik. Apektif adalah sikap seseorang terhadap teks yang dibacanya. Dengan memiliki sikap yang positif atau dengan kemampuan pembaca menanggapi isi teks dengan baik, maka akan menghasilkan pemahaman yang baik.

Selain hal tersebut di atas, Anthony dalam Rumijan (2002: 20) menyatakan bahwa ada tiga faktor yang perlu diketahui dan dikembangkan oleh guru dalam proses pemahaman isi bacaan, yaitu (1) karakteristik pebelajar, (2) karakteristik teks, dan (3) konteks sosial. Ketiga faktor ini menjadi perhatian utama bagi guru untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Untuk lebih jelasnya dibahas sebagai berikut.

(1) Karakteristik Pelajar­

Membina kemanpuan siswa di SD membawa pemahaman guru perlu mengetahui karakteristik siswa yang meliputi pengetahuan latar pengetahuan kosakata, dan pengetahuan metokognitif. Ketiga hal tersebut dibahas sebagai berikut.

(a) Pengetahuan Latar

Engetahuan latar adalah pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa yang berkaitan dengan topik bacaan yang akan dibaca. Mengetahui latar pengetahuan siswa sangat membantu memahami isi bacaan. Memiliki latar pengetahuan yang cukup berkaitan dengan teks bacaan yang akan dibaca akan berpengaruh pada kemampuan siswa memahami isi bacaan Cleary dalam Rumijan (2002: 64) menyatakan bahwa: “Anak yang memiliki latar pengetahuan yang Serupa dengan teks yang akan dibacanya sangat membantu anak dalam membaca.”

Upaya yang dapat dilakukan untuk menggali latar pengetahuan siswa dengan teks yang akan dibacanya dapat dilakukan dengan cara menghubungkan dan mencocokkan latar pengetahuan siswa dengan topik atau isi bacaan dengan cara membangkitkan skemata siswa melalui kegiatan bertanya jawab, memprediksi isi gambar. Cara seperti ini memiliki keuntungan, yaitu siswa secara tidak langsung dapat terampil berbicara yaitu mengemukakan pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dimiliki yang berkaitan dengan topik bacaan yang dibicarakan.

Menghubungkan pengetahuan latar siswa dengan isi bacaan dapat diperkuat dengan bantuan gambar, yaitu dengan cara memberi informasi singkat tentang garis besar isi bacaan, memberi tugas menebak judul bacaan, melakukan tanya jawab untuk menebak (perkiraan) isi bacaan. Dengan cara seperti ini dapat memudahkan siswa menelusuri atau menemukan isi bacaan yang dibacanya.

Latar belakang budaya juga menentukan potensi membaca pemahaman bagi siswa. Kesesuaian latar belakang budaya dengan isi bacaan yang akan dibaca dapat mempengaruhi interpretasi (penafsiran) isi bacaan. Dengan memiliki kemampuan interpretasi akan mudah memahami isi bacaan. Miller dalam Rumijan (2002: 80) menyatakan bahwa: “Anak membaca teks bacaan sesuai latar belakang budaya dapat mudah memahami isi bacaan. Sementara anak membaca topik bacaan yang tidak sesuai latar belakang budayanya akan mengalami kesulitan memahami isi bacaan.”

(b) Pengetahuan Kosakata

Pengetahuan kosakata yang dimiliki oleh siswa sangat berpengaruh terhadap kemampuan memahami isi bacaan. Guna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman literal, guru harus membekali pengetahuan kosakata bagi siswa. Penguasaan kosakata berpengaruh terhadap pemahaman teks bacaan. Cara yang etektif untuk meningkatkan kosakata siswa adalah (a) memilih dan menemukan kata kunci, (b) memberi petunjuk yang menekankan hubungan antara kata dengan pengalaman atau pengetahuan latar pembaca, dan (3) melatih menggunakan kosakata dalam kalimat.

(c) Pengetahuan Metakognitif

Meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, guru perlu meningkatkan metakognitif siswa. Metakognitif adalah kemampuan untuk menjelaskan mengapa seseorang melakukan strategi tertentu, misalnya memahami isi bacaan. Metakognitif dapat dikembangkan melalui pengalaman dan pembelajaran. Melalui pengembangan metakognitif siswa dapat menyadari langkah-langkah yang diambil dalam memahami isi bacaan.

Membangun metakognitif siswa dalam hal memaham isi bacaan dapat dilakukan dengan cara (a) guru menjelaskan proses membaca pemahaman secara eksplisit dengan memberi informasi tentang bagaimana dan kapan strategi itu digunakan (b) dengan cara pembelajaran timbal balik akan dapat mempengaruhi terhadap strategi memahami isi bacaan yang meliputi: meringkas isi bacaan, membuat pertanyaan isi bacaan, menjelaskan, memprediksi isi bacaan, melibatkan siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman.

(2) Karakteristik Teks

Pengetahuan tentang karakteristik teks dapat dipakai untuk membantu pemahaman teks bacaan. Pemahaman tentang karakteristik isi teks bacaan sangat membantu siswa dalam mamahami isi bacaan. Pemahannan terhadap jenis teks yang akan dibaca merupakan hasil dari pembentukan makna yang timbal balik antara pembaca dan teks bacaan.

(3) Konteks Sosial

Konsteks sosial merupakan lingkungan sosial dimana siswa berada. Pengaruh konteks sosial terhadap pembelajaran membaca pemahaman adalah bahwa latar belakang budaya dan konteks pembelajaran digunakan dapat mempengaruhi pemahaman isi bacaan.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, Burn, Roe dan Ross (1996: 130 menyatakan bahwa dalam membaca ada dua bagian utama yang perlu diketahui, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas yang bersifat mental maupun fisik. Sementara mebaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi aktivitas yang dilakukan pada saat membaca.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Jika menulis artikel sertakan juga dong daftar pustakanya. Terima kasih.

Poskan Komentar