siapa itu mahasiswa

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum,
sebelum ia berusaha untuk merubahnya sendiri”.
Assalamu alaikum wr.wb
Defenisi Mahasiswa secara konvensional adalah orang-orang yang menuntut ilmu pengetahuan pada sebuah lembaga perguruan tinggi dan terdaftar dalam administrasi perguruan tinggi. Tetapi ketika kita tinjau dari sudut pandang yang lebih kompleks maka mahasiswa tidaklah sesederhana itu. Makna mahasiswa yang lain dapat kita tinjau dari fungsi dan peranannya khususnya di Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara.
Perubahan di koordinat manapun di permukaan bumi secara umum tak lepas dari peran mahasiswa. Sejarah telah banyak bercerita tentang cerita-cerita heroik mahasiswa. Beberapa babakan perubahan bangsa ini tak lepas dari peran aktif mahasiswa. Kita tak kan mungkin lupa bagaimana mahasiswa dan pemuda berjuang bersama sehingga lahirlah Bangsa Indonesia yang merdeka yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan muncullah Soekarno sebagai pemimpin pertama Indonesia yang kemudian dinobatkan sebagai Presiden seumur hidup. Tapi karena adanya ketimpangan yang oleh masyarakat dan mahasiswa tidak sesuai dengan keinginan rakyat maka kepemimpinan Soekarno pun berakhir yang sekaligus menandai berakhirnya orde lama.
Babakan Indonesia pun kembali berlanjut di bawah kepemimpinan Soeharto yang lebih kita kenal dengan Orde Baru yang bertahan hingga 32 tahun. Dalam orde baru inilah kembali muncul riak dan pergerakan mahasiswa meski dalam orde ini sangat menganut faham militerisme yang tak ingin melihat adanya protes yang lebih muncul sebagai sebuah bentuk pemerintahan diktator dari seorang Soeharto sebagai presiden. Dan akhirnya pada bulan Mei 1998, mahasiswa kembali dapat menunjukkan powernya dengan menutup babak orde baru dengan senjata pamungkas yang lebih dikenal dengan reformasi. Dari sinilah Indonesia mengalami proses pembelajaran bagaimana bentuk dan inplementasi sebuah kehidupan demokrasi.
Action mahasiswa tak berhenti sampai disini. Beberapa perubahan terus disuarakan terbukti dengan semakin tumbuh suburnya demokrasi dan sedapat mungkin tak ada ruang bagi diktator. Selama proses perjuangan untuk tegaknya nilai-nilai keadilan dan berdenyutnya api perubahan, tak sedikit pengorbanan yang harus diberikan termasuk korban jiwa yang menyertai beberapa perubahan di negeri ini. Sebut saja korban Semanggi yang gugur dalam memperjuangkan reformasi.
Penerjemahan dari gerakan reformasi sampai hari ini belum terealisasi dengan baik bahkan lebih banyak menimbulkan komflik baru yang semakin memperkeruh masalah. Begitu besarnya peran mahasiswa sehingga beberapa titel dan gelar pun melekat pada salah satu lapisan elit bangsa ini. Beberapa gelar yang tak asing misalnya sosial control, agent of change, moral force merupakan bukti nyata betapa kalangan ini begitu diagung-agungkan oleh masyarakat, sehingga sangat wajar ketika harapan masyarakat masih tetap bertumpu kepada mahasiswa.
Namun,, ketika kita menilik kondisi mahasiswa hari ini, akan muncul sikap pesimistis dari masyarakat yang notabene adalah kalangan yang menjadi objek pembelaan mahasiswa. Distorsi telah terjadi, pergeseran paradigma telah merealita sehingga kebangaan sebagai mahasiswa harus dipertanyakan.
Lalu mahasiswa mana yang kita maksud?. Tak bisa dipungkiri bahwa pelopor dari pergerakan mahasiswa hari ini tak bisa dilepaskan dari lembaga kemahasiswaan mulai dari tingkat universitas sampai pada tingkat yang paling bawah yaitu jurusan dan lembaga organisasi ekstra. Tak jarang kita jumpai bahkan teramat lazim di kalangan mahasiswa yang tergolong ke dalam mahasiswa akademisi tulen dan mahasiswa salon. Mahasiswa akademisi tulen sangat menganut pengertian mahasiswa secara konvensional dimana mereka hadir di kampus hanya untuk belajar dan kuliah dan melepaskan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa sejati sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. Sementara mahasiswa salon hadir sebagai sosok mahasiswa yang bangga akan statusnya sebagai mahasiswa dalam bentuk yang lain dengan tanpa malu menggunakan titel kemahasiswaan sebagai ajang mencari popularitas dengan bergaya modis, trendy, funky dan menjadi penikmat modernitas. Lalu apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa semacam ini? yang tak ada waktu untuk masyarakat melainkan hanya memikirkan diri bagaimana bisa menyelesaikan study secepatnya dengan nilai serba A atau yang setiap saat hanya bernaung di ruang kuliah dengan aksesoris yang terkadang terlalu berat untuk mereka bawa atau karena takut kulitnya akan menjadi gelap untuk hanya sekedar membela masyarakat.
Lembaga kemahasiswaan harus mampu hadir dan mewujud sebagai wadah berkumpulnya mahasiswa sejati yang tak terkontaminasi oleh budaya salon dan tak melupakan perannya kepada masyarakat tetapi mampu menyelesaikan study dengan nilai yang memuaskan. Gerakan-gerakan yang dilancarkan telah mengalami kebuntuan, Ini semua diakibabkan karena dalam kubuh mahasiswa tidak lagi menjalin suatu persaudaraan karena kesamaan ideologi akan tetapi mereka lebih cenderung menjalin sebuah persaudaraan karena kedekatan hubungan. Hal ini juga akan menimbulkan perpecahan dalam warga itu sendiri karena mereka lebih senang berjalan sendiri tanpa sadar bahwa mereka berada dalam sebuah komunitas yang tidak terlepas pada dirinya.
Menurut Eko Prasoetyo dalam bukunya islam kiri mengatakan bahwa Gerakan oposisi tidak memiliki media yang kritis dan halangan banyak sekali serta mereka yang ada sudah digencet oleh mekanisme pasar. Gerakan mahasiswa mengalami nasib yang sama, bukan melalui pemasungan politik, tetapi dengan menjalankan komersialisasi pendidikan. Dengan menarik ongkos yang mahal, memperdek waktu kuliah, adalah taktik untuk melumpuhkan pergerakan mahasiswa. Krisis kader, budaya intelektual, kedisiplinan, telah berangsur-angsur membuat gerakan mahasiswa ditimpa penyakit lama; yaitu perpecahan devide at impera.
Ini terbukti ketika sebagian warga ingin mengadakan sebuah perubahan dalam hal perubahan sistem mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah maka selalu saja ada yang pro dan ada yang kontra ini menandakan bahwa terjadi suatu diskriminasi pada pihak-pihak tertentu dengan kata lain bahwa ada sebagian warga yang merasa tertindas dan ada yang merasa diuntungkan dengan sistem yang ada di Indonesia.
Dengan melihat realitas hari ini maka kita semua pasti rindu akan sebuah perubahan yang akan mengantarkan kita kepada sistem yang lebih baik. Perubahan-perubahan itu haruslah dimulai dari pada perubahan pola pikir tentang pemahaman mahasiswa sejati itu (revolusi pemikiran). Karena manusia dalam melakukan aktivitas itu mengikuti alam pikirannya olehnya dalam pemikiran yang sehat maka akan menghasilkan sesuatu yang baik begitupun sebaliknya. Sehingga tidak jarang kita melihat orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi namun, perbuatannya tidak sesuai dengan gelarnya sebagai intelek yang tercerahkan. Pemikiran kita jangan sampai terkontaminasi dengan lingkungan yang ada sehingga alam pikiran kita hanya diisi dengan material saja yang akan menjerumuskan manusia kedalam sistem kapitalisme.
Harapan masa depan pun harus kita punyai, kata orang bijak, orang yang sudah tidak punya harapan itu ibarat sudah mati sebelum mati. Seperti itupun, kita harus berani bermimpi dan berharap, semoga masa depan yang kita akan tapaki lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. Untuk itu kitapun harus berani berikhtiar mencari format untuk kemudian bagaimana membumikan mimpi-mimpi kita itu.
Olehnya itu, menyikapi semua masalah-masalah itu maka jawabannya adalah bagaimana kita meningkatkan kader-kader yang mampu memberikan warna dan perubahan-perubahan baik dalam lingkup universitas dan bagi bangsa pada umumnya. Peningkatan kader-kader ini bertujuan untuk melahirkan suatu generasi yang baik, karena realita hari ini generasi yang betul-betul ingin memperjuangkan dan membawa bangsa ini ke depan tidaklah mudah kita dapatkan. Serta menyatukan persepsi kita untuk mengadakan revolusi sistem baik intern individu maupun masyarakat sosial.
Melihat dari sejarah perjuangan mahasiswa di atas mulai zaman ke zaman haruslah kita ini generasi muda untuk merasa malu dengan segala kemunafikan kita sekarang dalam menanggapi segala fenomena sosial yang sesungguhnya telah memperburuk kehidupan bangsa. Perjuangan yang dilakukan bukanlah mengejar sebuah kemenangan akan tetapi kebutuhan kita sekarang mengembangkan rasa peka terhadap kehidupan sosial. Penindasan telah terjadi hampir di dua pertiga dunia tak terkecuali Indonesia. Penggusuran terjadi dimana-mana, pemerasan harta orang miskin dengan dikorupsi, eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan suatu golongan.

0 komentar:

Poskan Komentar